Iman Kristen itu seperti apa? Apa bedanya dengan agama lain, seperti Islam misalnya?

Begini, setiap iman memiliki keindahannya masing-masing, setidaknya bagi para pemeluknya. Bagi pemeluk Budha, iman kepada ajaran sang Budha memiliki keindahan. Delapan jalan menuju kebahagiaan mengekspresikan keindahan agama Budha. Demikian juga dengan para pemeluk agama Islam, yang percaya bahwa keindahan Islam terletak pada apa yang tertulis di dalam Al’Quran. Mendaraskan Al’Quran dan melukiskannya serta mengamalkannya merupakan ekspresi keindahan Islam. Atau, bagi para pemeluk agama lokal yang tergolong dalam pemeluk Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, seperti Kejawen bagi orang Jawa atau Kaharingan bagi orang Dayak misalnya; keindahan agama lokal ini terekspresi lewat ritual-ritual adat dan mistis yang dilakukan turun-temurun, seperti layaknya harta berharga yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Lantas, apa keindahan iman Kristen?

Keindahan iman Kristen terletak pada harapan yang dibawa oleh kabar baik atau Injil bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Bagi iman Kristen, berjalan melalui delapan jalan menuju kebahagiaan atau mengamalkan apa yang tertulis dalam sebuah Kitab, atau menjaga dan melakukan ritual secara turun-temurun tidak membuat manusia mampu mengalahkan kematian. Setiap keindahan iman agama manapun pada akhirnya berhenti pada kematian. Tetapi Injil membawa pengharapan, bahwa ADA SESEORANG YANG MAMPU MENGALAHKAN KEMATIAN. Dia bangkit dari antara orang mati, dan tidak mati lagi!

Memang setiap iman memiliki janjinya masing-masing. Orang-orang dijanjikan bebas dari penderitaan dunia atau dijanjikan surga penuh dengan bidadari. Setiap iman memiliki versi surganya masing-masing. Keindahan iman tampak dari indahnya janji-janji tersebut. Semakin meyakinkan janjinya maka semakin indah tampaknya. Para pemeluknya berharap untuk mendapatkan apa yang telah dijanjikan itu.

Lantas apa yang iman Kristen janjikan? Kemenangan atas kematian. Iman Kristen menjanjikan kemenangan atas kematian.

Bukan kemudian menjadi Kristen berarti tidak mengalami kematian, tetapi menjadi Kristen berarti mengikut Yesus yang sudah mengalahkan kematian. Ini bukan tentang kita yang mengalahkan kematian kita sendiri, tetapi tentang Yesus yang sudah mengalahkan kematian.

Begini, setiap iman memiliki junjungannya masing-masing. Bisa dikatakan orang saktinya. Budha memiliki Sidharta Gautama. Islam memiliki Muhammad. Agama lokal punya tokohnya masing-masing. Nah, Kristen memiliki Yesus Kristus. Para pemeluk agama mengikuti pimpinan junjungannya masing-masing.

Dari semua pentolan iman di atas, hanya Yesus yang mengalahkan kematian. Yang lain berakhir di kematian mereka sendiri, yang memang adalah sesuatu yang wajar karena mereka semua manusia biasa.

Ini yang kemudian jadi pertanyaan, emang Yesus bukan manusia biasa?

Jawaban iman Kristen ialah ya jelas Yesus itu bukan manusia biasa. Tidak ada manusia biasa yang mengalahkan kematiannya sendiri. Itu mengapa iman Kristen menyebut Yesus sebagai Tuhan Yesus, bukan nabi Yesus atau Guru Agung Yesus. Nabi memang baik dan mulia, tetapi nabi itu manusia biasa. Guru Agung itu memang bijak, tetapi ia pun manusia biasa. Semua manusia biasa berhenti pada kematian mereka masing-masing.

Perhatikan apa yang iman Kristen katakan: “jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu”.[1] Ini perkataan rasul Paulus kepada para pemeluk iman Kristen di kota Korintus pada waktu itu, sekitar 2000 tahun kurang yang lalu. Itu perkataan serius, yang berarti jika Yesus itu tidak bangkit berarti iman Kristen itu sia-sia saja. Dengan kata lain, seluruh nasib iman Kristen dan pengamalannya terletak pada benar tidaknya ada kebangkitan Yesus dari kematian.

Nah, jika ada orang yang mau meruntuhkan iman Kristen maka mudah sekali caranya. Buktikan saja bahwa Yesus tidak bangkit dari kematian maka iman itu menjadi sia-sia saja, tepat seperti yang dikatakan rasul Paulus di atas.

Sayangnya, selama 2000 tahun kurang ini, belum ada satupun orang yang berhasil membuktikan bahwa Yesus tidak bangkit dari kematian. Sebaliknya, para rasul itu telah melihat Yesus hidup setelah Ia mati disalib. Mereka bahkan melihatnya naik ke surga seperti adegan iron man yang naik menjulang ke langit.

Saking senangnya dengan kabar baik itu, orang-orang ini pergi dan menyampaikan kepada semua orang bahwa ada harapan bagi umat manusia. Yesus telah mengalahkan kematian. Bahkan mereka rela untuk dibunuh karena berita itu, menyerahkan nyawa mereka karena memberitakan kabar baik itu.

Perhatian apa yang rasul Paulus gambarkan: Jika tidak demikian …. mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar.  Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”.[2]

Begini, tidak ada orang yang mau mengambil resiko jika hal itu tidak menguntungkan baginya. Semakin besar resikonya seharusnya semakin besar juga keuntungan yang dijanjikan. Paulus ini mengambil resiko yang sangat besar ketika ia memberitakan kabar kebangkitan Yesus dari kematian. Lihat apa yang terjadi padanya:

Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.[3]

Bahkan, akhir hidup rasul ini ialah dia dihukum pancung oleh pemerintah Roma karena dituduh menyebabkan kekacauan dengan dasar agama.

Orang ini tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, setidaknya bukan keuntungan materi atau posisi atau kenikmatan hidup atau kenyamanan atau apapun. Ia melakukan pemberitaan Injil, yaitu bahwa Yesus telah bangkit dari kematian karena memang itulah yang terjadi. Itulah yang sesungguhnya terjadi! Dan hal itu memberikan harapan bagi kemanusiaan bahwa ada seseorang yang telah berhasil mengalahkan kematian.

Contoh hidup rasul Paulus dan para rasul yang lain menjadi gambaran iman Kristen. Iman Kristen tidak dibangun dengan penaklukan tentara. Iman Kristen tidak dibangun dengan semedi yang khusuk selama berbulan-bulan. Iman Kristen juga tidak dibangun karena warisan turun-temurun. Iman Kristen dibangun karena sebuah kabar bahagia dengan pengorbanan nyawa para pemberitanya, bukan karena mati bertempur, tetapi karena dihukum mati oleh pemerintah Romawi.

Iman Kristen dibangun karena sebuah kabar bahagia. Manusia perlu mendengar bahwa di tengah-tengah tekanan maut setiap hari dan ketakutannya karena bayang-bayang kematian, ada Yesus yang sudah berhasil mengalahkan kematian. Hanya Dia satu-satunya pemimpin agama yang pernah mengalahkan kematiannya sendiri. Ia memberi harapan kepada semua manusia.

Iman Kristen dibangun di atas sebuah FAKTA, bahwa Yesus telah mengalahkan kematian.

Mari datang kepada-Nya. Ia hidup. Berikan dirimu untuk dipimpin oleh-Nya untuk keluar dari bayang-bayang maut.


[1] 1 Korintus 15:17 TB

[2] Lihat 1 Korintus 15: 29-32 TB

[3] 2 Korintus 11: 23 – 28  TB