Yesus Itu Allah (Bag-3, Selesai)

Peristiwa ketiga, direkam Yohanes dalam Injilnya demikian. Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.[1]

Pada bagian ini, Yesus sedang berdialog dengan orang-orang Yahudi. Ia mengatakan kepada mereka tentang Abraham, seseorang yang sangat dihormati dan dikagumi oleh mereka. Menurut Yesus, Abraham senang sekali ketika melihat Yesus datang sebagai manusia.

Ini sangat aneh. Tanggapan orang-orang Yahudi itu mengekpresikan keanehan tersebut. “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Aneh kan? Mana ada orang yang mengatakan hal semacam ini? Abraham itu hidup jauh sebelum percakapan ini terjadi, sekitar dua milenia sebelumnya. Bayangkan, dua ribu tahun perbedaan waktunya!

Bukan saja aneh, ini tidak mungkin terjadi. Tidak ada manusia yang hidup dua ribu tahun lamanya. Manusia yang paling lama hidupnya tercatat oleh Kitab Suci ialah Metusalah, yang berumur seribu tahun kurang sedikit.[2]

Tetapi untuk menegaskan bahwa apa yang dikatakannya itu benar adanya dan bukan aneh atau mustahil, Yesus mengatakan bahwa Dia sudah ada jauh sebelum Abraham jadi. Dengan kata lain, Yesus menyatakan kepada orang-orang Yahudi itu bahwa Abraham itu diciptakan, sementara Aku ini sudah ada dari semula. Sebelum Abraham diciptakan Aku ini sudah ada. Kira-kira itu dasar yang Yesus pakai sebagai backup dari perkataan sebelumnya, bahwa Abraham senang melihat Yesus datang ke bumi sebagai manusia.

Terjemahan Bahasa Inggris dari perkataan Yesus di atas menunjukkan apa yang tidak muncul dalam terjemahan bahasa Indonesia. Jesus said to them, “Truly, truly, I say to you, before Abraham was, I am.”[3]

Kita mau mencoba mengingat sedikit bahan pelajaran bahasa Inggris di sini.

Perhatikan ini: “before Abraham was, I am”. Jika tujuan anak kalimat ini ialah untuk mengatakan sebelum Abraham ada, Aku sudah ada maka secara tenses, ini salah. Seharusnya yang dikatakan ialah before Abraham was, I was. Atau before Abraham was, I had been. Mengatakan before Abraham was, I am itu sama sekali menyalahi aturan tenses bahasa Inggris.

Mengapa itu bisa terjadi?

Itu terjadi karena frase I am dalam anak kalimat di atas bukan sebuah pola Subyek plus predikat To Be. I am yang dimaksud itu seperti dalam ayat berikut ini. God said to Moses, “I AM WHO I AM.” And he said, “Say this to the people of Israel, ‘I AM has sent me to you.’” [4]

Perhatikan anak kalimat I AM has sent me to you. I AM di sini sama dengan I am yang digunakan Yesus. Bukan mengacu pada subyek plus predikat to be tetapi mengacu kepada sebuah nama. Nama itu ialah I AM. Nama ini menunjukkan sifat Allah yang tidak berubah. Waktu tidak mengubah Allah. AKU ADALAH AKU, demikian nama Allah Israel.[5]

Nah itu mengapa orang-orang itu kemudian langsung mengambil batu untuk melempari Yesus. Mereka sangat paham pada apa yang baru saja mereka dengar. Menyebut aku adalah I AM berarti mengaku dirinya adalah Allah Israel. Yesus menyatakan kepada mereka Ia adalah Allah Israel. Hukuman terhadap orang yang mengaku sebagai Allah Israel ialah hukuman dilempari batu sampai mati.

Untungnya, karena memang belum waktu Yesus mati, mereka tidak berhasil menghukum mati Yesus pada waktu itu.

Nah, sejauh ini kita sudah melihat tiga peristiwa yang di dalamnya Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Allah. Pertama, Yesus mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu”. Dengan mengatakan demikian, Ia menyamakan diriNya dengan Allah. Seseorang yang menyamakan dirinya dengan Allah berarti menyatakan bahwa ia adalah Allah.

Kedua, Yesus menyebut dirinya sebagai Anak Manusia di hadapan orang-orang yang memahami Daniel 7:13-14. Dengan sebutan Anak Manusia itu, Yesus mengatakan bahwa Ia memiliki kerajaan yang kekal dan semua manusia akan mengabdi kepada-Nya. Seseorang yang mengatakan demikian berarti menyatakan bahwa ia adalah Allah sebab hanya Allah satu-satunya pribadi yang memiliki kerajaan yang kekal dan menerima pengabdian dari seluruh umat manusia.

Ketiga, Yesus menyampaikan fakta mengagetkan sekaligus aneh dan mustahil, yaitu Ia sudah ada jauh sebelum Abraham diciptakan. Ia menyematkan nama Allah Israel I Am kepada diriNya sendiri. Melakukan hal yang demikian sama saja dengan menyatakan bahwa Ia adalah Allah Israel.

Ketiga peristiwa tersebut diakhiri dengan respon yang sama dari orang-orang yang mendengar. Hukuman mati! Seseorang yang mengaku diri-Nya Allah harus dihukum mati karena mengaku diri sebagai Allah adalah bentuk penghujatan kepada Allah. Hukumannya ialah hukuman mati.

Dengan tiga bukti di atas, jelaslah bahwa Yesus pernah mengatakan Ia adalah Allah. Lagipula, ada banyak perkataan Yesus yang lainnya yang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Dengan semua perkataanNya itu, kita seharusnya tidak ragu-ragu untuk menjawab orang-orang yang beranggapan bahwa Yesus tidak pernah mengatakan diriNya Allah.

Percayakah Saudara sekarang bahwa Yesus adalah Allah?


[1] Yohanes 8:56-59 TB

[2] Kejadian 5:27 TB

[3] Yohanes 8:58 ESV

[4] Keluaran 3:14 ESV

[5] Lihat Keluaran 3:14 TB

Yesus Itu Allah (Bag-2)

Kita akan melihat tiga cerita Injil yang di dalam cerita itu Yesus mengatakan Ia adalah Allah. Dua cerita diambil dari Injil Yohanes, satu cerita dari Injil Lukas.

Peristiwa pertama, direkam Yohanes dalam tulisan Injilnya. 

“… Aku dan Bapa adalah satu.” Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” … supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.[1]

Nah, perhatikan perkataan Yesus dan perhatikan juga tanggapan orang-orang yang mendengar. Yesus mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu”. Orang-orang yang mendengar menanggapi dengan mengambil batu untuk melempari Yesus.

Yesus memanggil Allah Israel dengan sebutan Bapa. Ini bukan hal yang menghujat. Para nabi seperti Yesaya dan Yeremia menuliskan panggilan Allah sebagai Bapa.[2] Bahkan, Maleakhi menulis Allah yang memang menginginkan Israel menghormati-Nya seperti seorang anak menghormati bapanya.[3]

Yang menjadi persoalannya ialah Yesus mengatakan Aku dan Bapa adalah satu. Ini adalah perkataan yang menghujat Allah. Mengapa? Karena manusia yang mengatakan ia dan Allah adalah satu menyamakan dirinya dengan Allah. Tidak ada orang yang dapat menyamai Allah. Allah terlalu besar dan agung dan megang dan tinggi untuk dapat disamakan. Terlalu jauh kualitas antara Allah dengan manusia. Nah, manusia yang menyamai Allah sama saja mengatakan ia adalah Allah sendiri.

Orang-orang yang mendengar perkataan Yesus langsung ingin melempari Dia dengan batu sampai mati. Menyamakan diri dengan Allah atau mengatakan dirinya Allah adalah penghujatan yang harus dihukum dengan hukuman mati. Dalam kutipan tulisan Yohanes di atas, kita dapat melihat kesimpulan yang diambil oleh orang-orang yang mendengar: “karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah”.

Peristiwa kedua, direkam Lukas dalam Injilnya.

Maka Imam Besar bangkit berdiri di tengah-tengah sidang dan bertanya kepada Yesus, katanya: “Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?” Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.” Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?” Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati.[4]

Perhatikan bahwa seluruh majelis sidang yang berjumlah tujuh puluh orang itu bersuara bulat untuk menghukum mati Yesus. Atas dasar apa? Atas dasar penghujatan. Bagian mana dari perkataan Yesus di atas yang menghujat Allah? Bukankah Yesus mengatakan Dia adalah Anak Manusia?

Nah, di sinilah pemahaman konteks menjadi sangat penting. Mungkin orang-orang akan mengatakan “kan benar, Yesus mengatakan dirinya Anak Manusia. Artinya Yesus mengaku diri-Nya manusia biasa, kok iman Kristen bilang Dia Tuhan?” Anak Manusia dalam pemahaman kita sekarang berarti anak dari manusia atau anak dari manusia biasa. Kita semua anak manusia. Wajar memang jika kemudian perkataan Yesus diartikan sebagai suatu bentuk pengakuan bahwa Ia adalah manusia biasa saja, bukan Tuhan.

Sayangnya, dalam sidang di atas, para majelis alim ulama yang sangat mengerti Kitab Suci itu tidak begitu pemahamannya. Dalam sidang itu, mereka paham betul apa artinya Anak Manusia dalam konteks pemikiran Yahudi. Itu mengapa saat Yesus mengatakan Dia adalah Anak Manusia, mereka semua langsung sepakat dengan suara bulat menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus.

Jadi, sebenarnya siapa sih Anak Manusia itu sehingga harus banget dengan suara bulat tujuh puluh orang tua-tua Israel itu menghukum mati seorang rabi?

Mari kita lihat ayat yang memang menjadi acuan tujuh puluh orang itu sekaligus acuan semua orang yang paham konteks percakapan sidang tersebut.

Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.[5]

Setidaknya ada dua hal besar yang terkait dengan Anak Manusia, sebutan yang dipakai Yesus untuk dirinya sendiri di hadapan tujuh puluh orang majelis hakim di atas. Pertama, dalam penglihatan Daniel, ada dua sosok pribadi, yang seorang seperti anak manusia, artinya ia terlihat seperti layaknya seorang manusia pada umumnya, dan yang lain ialah Yang Lanjut Usianya, yaitu seseorang yang lebih tinggi kedudukannya, lebih besar pengaruhnya dari anak manusia itu.

Nah, Daniel melihat bahwa anak manusia dibawa ke hadapan Yang Lanjut Usianya. Anak kalimat “dibawa ke hadapan Yang Lanjut Usianya” menunjukkan posisi Yang Lanjut Usianya lebih tinggi dan pengaruh yang lebih besar dari anak manusia itu. Dari Yang Lanjut Usianya itu, Anak manusia kemudian menerima kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja. Ini tampak seperti pelantikan seorang raja oleh seseorang yang sangat berkuasa.

Ini ditunjukkan dengan setting tempat kejadian “tampak datang dengan awan-awan dari langit”. Juga terlihat dengan tanggapan banyak orang “dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa” yang datang untuk mengabdi kepada anak manusia itu. Juga diperlihatkan dengan penjelasan tentang sifat dari otoritas yang baru saja diberikan kepada sang anak manusia: “Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah”.

Jelaslah bahwa anak manusia yang dilihat Daniel ini bukan sekedar seorang manusia biasa. Tidak ada manusia biasa yang datang dengan awan-awan dari langit. Tidak juga seorang manusia biasa yang menerima pengabdian dari segala bangsa, suku dan bahasa, apalagi dengan kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap serta kerajaan yang tidak akan musnah.

Anak manusia ini jelas lebih dari sekedar manusia biasa.

Yang Lanjut Usianya dapat diartikan sebagai Allah sendiri sementara anak manusia ini ialah Anak Allah.

Nah, begitulah kira-kira pemahaman para tujuh puluh tua-tua Israel di atas. Ketika mereka mendengar Yesus mengatakan Dia adalah Anak Manusia, yang mereka pikirkan ialah Yesus menyebut diri-Nya memiliki kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap dan kerajaan yang tidak akan musnah. Terang saja itu sama dengan mengatakan aku adalah Anak Allah, yang dilantik Allah untuk menerima pengabdian dari seluruh umat manusia.

Untuk seorang rabi Yahudi yang adalah manusia biasa, pengakuan seperti itu dikategorikan sebagai sebuah penghujatan terhadap Allah. Itulah sebabnya dewan majelis tersebut memberikan hukuman mati kepada Yesus. Keputusan hukuman mati ini menjadi dasar Yesus disalib. Dengan kata lain, Yesus hukum mati, disalib, karena Ia mengaku dirinya sebagai Anak Allah yang memiliki kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap dan kerajaan yang tidak akan musnah, yang kepada-Nya seluruh umat manusia akan mengabdi.


[1] Yohanes 10:30-33, 39 TB

[2] Lihat Yesaya 63:16 TB, Yesaya 64:8 TB, Yeremia 3:4 TB

[3] Maleakhi 1:6 TB

[4] Lukas 14:60-64 TB

[5] Daniel 7:13-14 TB

Yesus Itu Allah (Bag-1)

Sepertinya setiap kita punya pengalaman ini. Ada yang datang dan bertanya kenapa iman Kristen percaya Tuhan bisa jadi manusia. Orang bertanya apakah Yesus itu Tuhan? Atau mana perkataan Yesus yang menyebut diri-Nya Tuhan? Yesus kan hanya nabi kok bisa jadi Tuhan? Atau pertanyaan lain yang semacam itu.

Saat bertemu pertanyaan semacam itu lantas apa jawaban kita?

Mungkin banyak ya variasi jawabannya. Yang jelas, kita sendiri perlu benar-benar percaya pada apa yang Kitab Suci katakan. Dasar kepercayaan iman Kristen ada pada apa yang tertulis dalam Alkitab. Semua itu benar adanya. Kita percaya Alkitab adalah firman Allah yang tidak mungkin keliru. Yang tertulis dalam Kitab Suci kita bukan dongeng atau sekedar ide mulia yang rohani. Sebaliknya, orang-orang terpilih menulis pengalaman mereka bersama Allah saat Allah bersentuhan dengan kehidupan manusia biasa.

Nah sekarang, apa memang Alkitab menulis perkataan Yesus kalau benar Dia itu Tuhan? Banyak orang ingin tahu apakah Yesus pernah berkata dan mengaku diri-Nya adalah Allah. Bahkan, jika kita “hanya’ memberikan tulisan para rasul saja, beberapa orang masih saja ingin tahu perkataan Yesus sendiri. Maksudnya, yang mereka inginkan bukan sekedar apa yang para rasul-Nya katakan tentang diri Yesus, tetapi Yesus sendiri yang mengeluarkan perkataan itu.

Sehingga ketika kita gagal memberikan apa yang diinginkan maka orang-orang akan menganggap bahwa ternyata Yesus bukan Allah. Iman Kristen percaya pada karangan Paulus saja karena Yesus sendiri tidak pernah mengatakan diri-Nya Allah.

Sejatinya, apakah memang ada perkataan Yesus yang menjadi bukti iman Kristen bahwa Ia adalah Allah?

Begini, Apa yang para rasul sampaikan dalam Alkitab bukanlah karangan manusia. Itu semua adalah kehendak Allah. Jadinya, tulisan para rasul itu ya sama saja dengan perkataan Yesus sendiri. Kan rasul itu berarti orang yang diberi kepercayaan penuh dan diutus untuk melakukan tugas yang dipercayakan oleh yang mengutusnya. Dalam hal ini para rasul itu diutus oleh Yesus sendiri. Jadinya wajar dan benar adanya jika kita katakan bahwa perkataan para rasul dalam Alkitab itu bobotnya sama dengan perkataan Yesus sendiri.

Mungkin kemudian ada yang berkata, okelah kalau begitu. Kita percaya para rasul memegang otoritas yang demikian. Tetapi yang dibutuhkan di sini adalah perkataan Yesus sendiri.

Baiklah. Sabar. Tentu saja Yesus sendiri pernah mengatakan Dia adalah Allah. Bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi berkali-kali. Justru, perkataan para rasul dibangun di atas perkataan Yesus sendiri bahwa Ia adalah Allah. Mereka membangun iman Kristen di atas tindakan Yesus yang mereka lihat dan kemudian tuliskan dalam Injil.

Artinya, jika ada orang yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah mengatakan Dia itu Allah, ya tidak usah dipercaya saja. Orang-orang ini kan sukanya menyebarkan hoax. Hoax itu tidak perlu didengar. Orang yang menyebarkannya perlu dipandang sebagai pembohong dan tidak bertanggung jawab.

Baiklah. Jadi, mana perkataan Yesus yang mengatakan Dia adalah Allah?

Sebentar. Satu poin dulu sebelum ke situ. Kita pasti ke situ, tetapi kita butuh poin ini sebelum ke situ.

Ada sebuah cerita. Seorang anak remaja disuruh ibunya membeli kue bolu. Ibunya sedang sibuk di dapur mempersiapkan masakan kesukaan suami. Kue bolu juga adalah kesukaan suami. Ini adalah masa pandemi Covid. Oleh pemerintah orang-orang dianjurkan untuk tidak keluar rumah kecuali untuk urusan-urusan yang sangat penting dan mendesak.

Sekarang, pertanyaanya ialah apakah kue bolu ialah urusan yang sangat penting dan mendesak? Tentu saja tidak! Ibu ini meresikokan anaknya terkena virus mematikan hanya karena urusan kue bolu.

Apakah benar tanggapan tersebut? Bisa saja benar. Tetapi, bisa juga salah.

Untuk memastikan benar tidaknya tanggapan itu kita perlu paham konteks kejadian ceritanya. Ternyata, si ayah remaja ini baru saja menjalani isolasi di rumah sakit selama empat belas hari. Oleh para tenaga kesehatan, bapak ini ditolong sehingga akhirnya ia bisa kembali ke rumah setelah statusnya dinyatakan negatif. Dua minggu adalah waktu yang sangat lama bagi keluarga ini. Dengan harap-harap cemas mereka menanti dan mendoakan kesembuhan dari sang kepada rumah tangga. Hari itu, bapak terkasih itu kembali ke rumah karena sudah sembuh.

Itu konteks pertamanya. Dari pemahaman ini, kita tahu situasinya. Ternyata rumah dalam situasi penyambutan sang bapak. Wajar jika si ibu sibuk mempersiapkan masakan kesukaan suami dan remaja tadi berkontribusi membeli bolu kesukaan ayahnya.

Tetapi, mengapa harus keluar membeli bolu? Itu sama saja mengundang kembali virus masuk dalam rumah. Mungkin ada yang berpikir begitu.

Nah, konteks kedua melengkapi pemahaman cerita di atas. Ternyata, kue bolu itu tidak dibeli di swalayan, tetapi secara daring atau online. Sang ibu belum terbiasa membeli secara daring. Biasanya anak remajanya ini yang dimintai tolong setiap kali ingin belanja daring.

Saya kira cerita tersebut jadi bisa dipahami dengan baik. Dari sini kita tahu bahwa ternyata konteks sangat menentukan pemahaman kita terhadap cerita yang dibaca. Kurangnya pemahaman konteks dapat berakibat tanggapan yang salah terhadap cerita, persis seperti tanggapan awal terhadap cerita di atas. Sebaliknya, pemahaman konteks yang baik menjadikan kita dapat memiliki tanggapan yang benar.

Perkataan-perkataan Yesus ditulis dalam cerita-cerita Injil. Cerita-cerita itu memiliki konteksnya. Nah, beberapa orang sebenarnya telah mendengar berkali-kali perkataan Yesus yang menyatakan Ia adalah Allah. Tetapi karena tidak memahami konteksnya dengan benar maka perkataan-perkataan itu tidak dimengerti sebagaimana seharusnya. Tanggapannya pun jadi salah sehingga ada kesimpulan yang keliru yang mengatakan Yesus tidak pernah mengatakan Ia adalah Allah. Padahal, dalam cerita-cerita Injil, Yesus berkali-kali mengatakan bahwa Ia adalah Allah.

Ayat berikut dapat membantu kita membentuk pemahaman konteks yang kita butuhkan dari cerita Injil yang akan kita lihat.  

Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati.[1]

Ayat ini mewajibkan orang Israel untuk melontari seseorang yang menghujat nama Allah. Nah, kewajiban ini dipegang teguh oleh orang-orang Yahudi pada jaman Yesus. Maka, setiap kali Injil mencatat Yesus mengatakan sesuatu dan kemudian diakhiri dengan kalimat orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus, itu berarti perkataan Yesus itu dianggap atau dipahami sebagai sesuatu yang menghujat Allah.

Bagi kita sekarang, ketika membaca cerita yang mengatakan orang-orang ingin melempari Yesus dengan batu, bisa jadi kita berpikir mereka marah atau tersinggung dengan perkataan Yesus. Pikiran itu dapat dimengerti. Pada masa kini, orang yang ingin melempar batu kepada orang lain biasanya adalah orang yang marah atau tersinggung. Alasan pelemparan itu lebih kepada emosi yang meledak. Alasan yang memicu emosi tersebut dapat sangat bervariasi, tetapi biasanya adalah masalah pribadi. Orang yang melempar batu pun biasanya dianggap sebagai orang yang kurang dewasa, atau tidak dapat mengendalikan emosinya.

Sayangnya, tidak demikian dengan orang-orang Yahudi pada jaman Yesus. Mereka hidup menurut hukum Taurat. Bagi mereka, ketika seseorang emosi dan melempari sesamanya dengan batu maka orang yang emosi tersebut harus dibalas. Tidak peduli apakah emosi itu dipicu karena tersinggung atau masalah pribadi lainnya, ketika seseorang tidak dapat mengendalikan emosinya dan justru melempari sesamanya dengan batu, maka kerugian yang diderita oleh sesamanya itu haruslah dibalaskan kepada orang yang melempari. Mata ganti mata, gigi ganti gigi, bengkak ganti bengkak. Dengan kata lain, batu yang dilempari orang itu harus kembali dilempari kepadanya karena ia telah merugikan sesamanya.[2]

Yang ingin disampaikan di sini ialah orang-orang Yahudi yang ingin melempari Yesus dengan batu bukanlah seperti yang kita bayangkan. Mereka bukan orang yang tidak dapat mengendalikan diri sehingga setiap kali ingin melempari sesamanya dengan batu. Sebaliknya, mereka paham betul apa yang mereka lakukan. Agama mewajibkan mereka untuk melempari seseorang yang kedapatan menghujat nama Allah. Saat Yesus mengaku Ia adalah Allah, hal itu dihitung sebagai sesuatu yang menghujat Allah. Tentu saja, hukumannya ialah dilempari dengan batu saat itu juga.  


[1] Imamat 24:16 TB

[2] Lihat Imamat 24:19-20 TB

Terlalu Besar Untuk Ukuran Manusia Biasa

Yang paling membedakan junjungan iman Kristen dengan junjungan iman yang lain ialah Yesus memiliki perkataan-perkataan yang terlalu besar. Bukan sangat besar, tetapi terlalu besar. Kata ‘terlalu’ di frase ‘terlalu besar’ menjelaskan sifat besar yang berlebihan. Terlalu besar berarti besarnya berlebihan. Dengan kata lain, saat dikatakan Yesus memiliki perkataan-perkataan yang terlalu besar berarti kata-kata yang Beliau keluarkan memang besar tetapi berlebihan.

Perkataan Yesus besar, karena itulah Beliau menjadi junjungan bagi banyak sekali orang. Ada sejumlah besar perkataan Yesus yang bijak dan mengena di hati. Sebagai contoh, perkataan Yesus tentang kasih jauh mencerminkan kedalaman yang jauh melebihi pengertian manusia pada umumnya: “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”.[1] Orang kebanyakan mengerti jika manusia seharusnya mengasihi sesamanya, tetapi tidak banyak yang membawa kasih itu kepada musuh mereka bahkan lebih lagi mendoakan orang-orang yang melakukan kekerasan kepada mereka. Ini kasih yang sangat dalam.

Atau, perkataan tentang kebaikan yang tiada duanya: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.”[2] Perkataan ini dibuktikan Beliau sendiri saat hendak ditangkap oleh prajurit Romawi. Ia tidak memberikan perlawanan sama sekali, meskipun itu bisa saja dilakukan. Orang pada umumnya akan melawan siapa saja yang berbuat jahat kepada mereka, tetapi Yesus mengajarkan untuk tidak melawan ketika mengalami kekerasan, tetapi justru rela berkorban untuk “memberi pipi kiri” ketika ditampar pipi kanan: membalas kejahatan dengan kebaikan, bahkan dengan pengorbanan.

Mahatma Gandhi terinspirasi dengan ajaran Yesus ini. Kejahatan yang dibalas dengan kebaikan. Ia memimpin sebuah gerakan tanpa kekerasan untuk melawan kekerasan yang terjadi di bangsanya oleh Kolonial Inggris pada waktu itu. Martin Luther King Jr. juga memimpin kegerakan tanpa kekerasan untuk melawan segregasi warna kulit di Amerika karena ajaran Tuhan Yesus ini. Baik Gandhi maupun King berhasil membawa dampak besar bagi bangsa mereka masing-masing. Mereka membalas kejahatan dan kekerasan dengan gerakan tanpa kekerasan. Mereka mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Yesus memiliki perkataan-perkataan yang besar. Tokoh-tokoh dunia meneladani-Nya dan mereka berhasil. Perkataan Yesus terbukti benar.

Meskipun demikian, ada perkataan-perkataan Yesus yang jika dirasa sebagai manusia perkataan-perkataan itu agaknya berlebihan, bahkan beberapa di antaranya kok malah sangat berlebihan.

Sebagai contoh, Beliau mengatakan “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”[3] Ada tiga bagian di sana. Akulah Jalan. Akulah Kebenaran. Akulah Hidup. Dalam tiga bagian ini Ia menyatakan tentang diri-Nya: Akulah jalan menuju kepada Allah Pencipta dan tidak ada jalan lain selain Aku.[4] Akulah Kebenaran. Jika kamu melihat Aku maka kamu sebenarnya sudah melihat Allah Pencipta.[5] Akulah Hidup. Aku yang mengadakan hidup manusia.[6] 

Mungkin ada sih yang mengatakan Aku tahu jalan menuju Allah Pencipta, atau Aku sudah menemukan jalan menuju Pencipta. Banyak orang mengatakan diri mereka sebagai utusan Allah. Mereka bercerita tentang pengalaman mereka bertemu dengan Allah. Mereka menyampaikan pesan-pesan spiritual atas nama Allah. Mereka menunjukan jalan menuju Allah. Banyak yang demikian. Itu bukan hal yang berlebihan. Itu hal yang wajar bagi orang-orang khusus yang kita namakan nabi atau rasul atau utusan Allah atau yang semacam itu.

Tetapi untuk mengatakan Akulah Jalan menuju Pencipta sepertinya kok rasanya agak berlebihan ya. Bukankah manusia hanya bisa menunjukkan jalan? Ini Beliau malah mengatakan aku itu jalannya. Tapi tentu saja kita sudah lihat di depan kemungkinan Yesus untuk berbohong itu sangatlah kecil. Atau kemungkinan jika Beliau ini adalah orang gila juga sangat-sangat kecil.

Jadinya, apa Yesus itu memang seperti yang Ia katakan ya? Apa Yesus itu jalan menuju Allah Pencipta?

Dan jujur saja, tidak ada manusia normal yang mengatakan Akulah Kebenaran. Begini ya, banyak orang yang percaya jika mereka sudah menemukan kebenaran. Ada yang mendapatkan kebenaran ketika bersemedi. Ada pula yang mengalami teofani atau pengalaman bertemu Allah secara langsung. Ada juga kaum Sufi yang sepertinya punya hubungan yang khusus dengan Allah.

Paling tidak, semua orang tersebut meyakini bahwa mereka dekat dengan kebenaran, bahkan sangat dekat sehingga kita yang awam ini bisa bertanya kepada mereka tentang kebenaran. Orang-orang khusus ini dipercaya menjadi sumber jawaban terkait kebenaran tentang Allah. Entah kemudian jawabannya benar-benar dapat dipercaya atau tidak, itu semua dikembalikan kepada kita yang bertanya. Apakah kita benar-benar percaya kepada kata mereka atau tidak dan apakah pengalaman mereka itu benar atau hanya sekedar omong belaka. Tidak ada yang tahu pasti.

Tapi, Yesus mengatakan dia ADALAH kebenaran. Bukan sekedar tahu, atau dekat atau punya koneksi, tetapi Akulah kebenaran. Ini kok gimana ya rasanya. Cobalah mencari satu orang di sepanjang sejarah umat manusia yang mengatakan hal serupa. Atau untuk menyederhanakannya, cobalah tengok para pentolan iman lainnya itu, apakah ada yang pernah mengklaim dirinya sebagai kebenaran? Kalo sekedar tahu atau punya koneksi atau meyakini bahwa dirinya adalah utusan Allah untuk menyampaikan kebenaran ya memang ada. Ada nabi. Ada rasul. Ada orang bijak yang memang bertugas untuk kebenaran. Tetapi mengatakan Akulah kebenaran itu ya baru Beliau ini.

Dan lagi, mengatakan Akulah hidup. Ini sangat berlebihan bagi seorang manusia biasa. Manusia itu punya kehidupan. Dia menjalani kehidupan. Ada hidup yang tiap hari ia rasakan dan alami dan pelihara dan resapi dan maknai. Dan dari manusia yang banyak itu, ada orang-orang yang memang lebih paham tentang hidup dari orang kebanyakan. Para pentolan iman misalnya, mereka jauh lebih memahami topik tentang hidup dari pada orang kebanyakan. Itu wajar. Kita menyebut mereka orang-orang terpilih.

Tetapi Yesus? Ia mengatakan Akulah hidup. Bukan sekedar tahu tentang hidup atau lebih paham tentang kehidupan ini. Ia ADALAH hidup itu sendiri. Ini berlebihan sekaligus membingungkan. Mana ada orang waras yang mengatakan aku adalah hidup. Tetapi Yesus melakukannya. Dan kita tahu, Yesus bukan orang yang tidak waras dan bukan pembohong.

Apakah memang Yesus itu benar-benar seperti yang Ia katakan tentang diri-Nya? Kita perlu benar-benar memperhatikan perkataan-perkataan Yesus ini.

Itulah mengapa iman Kristen menaruh fokus kepada Yesus dan apa yang Beliau katakan serta apa yang dikatakan oleh para murid-Nya yang kemudian disebut para rasul itu. Ada banyak perkataan Yesus yang seperti ini, seperti Akulah Roti hidup,[7] Akulah kebangkitan dan hidup,[8] Aku akan kembali ke sorga untuk menyiapkan tempat bagimu,[9] permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada (perkataan yang Ia sampaikan dalam doanya kepada Allah Bapa),[10] dan klaim-klaim besar lainnya.

Sekarang, mari sejenak berpikir. Kalau manusia biasa yang waras tidak mungkin mengeluarkan perkataan-perkataan sebesar dan se-berlebihan itu, dan kita tahu Yesus itu waras dan bukan pembohong atau orang gila, maka sebenarnya Yesus itu apa?

Itu mengapa iman Kristen menyebut Yesus itu Tuhan. Hanya Tuhan yang dengan yakin mengatakan hal-hal yang menakjubkan seperti itu. Hanya Tuhan jalan menuju Tuhan. Hanya Tuhan yang menyebut diri-Nya kebenaran. Hanya Tuhan yang menyebut diri-Nya hidup itu sendiri.

Yesus itu junjungan iman Kristen, bukan karena Beliau manusia hebat, tetapi karena Yesus itu Tuhan. Iman Kristen tidak menjadikan manusia biasa sebagai junjungan. Yesus itu Tuhan, bukan sekedar manusia biasa. Ia junjungan iman Kristen kita. Ia junjungan kita.

Iman Kristen itu isinya ya tentang Yesus. Semua perkataan besar dari Yesus diyakinkan dengan kebangkitan-Nya dari kematian. Dan iman Kristen mendasarkan keimanannya pada kebenaran ini. Jadinya, jika ingin tahu lebih banyak tentang iman Kristen maka kenallah Yesus. Ya, kenallah Yesus, bukan sekedar tahu tentang-Nya.

Caranya?

Datang pada-Nya. Bicara dengan-Nya. Baca dan pikirkan dengan serius perkataan-perkataan-Nya dalam Alkitab. Dia menunggu kita.


[1] Matius 5:44 TB

[2] Matius 5:39 TB

[3] Yohanes 14:6a TB

[4] Lihat Yohanes 14:6b TB

[5] Lihat Yohanes 14:9b TB

[6] Lihat Yohanes 1:3-4

[7] Yohanes 6:35 TB

[8] Yohanes 11:25 TB

[9] Yohanes 14:2-3 TB

[10] Yohanes 17:5 TB

Keindahan Iman Kristen

Iman Kristen itu seperti apa? Apa bedanya dengan agama lain, seperti Islam misalnya?

Begini, setiap iman memiliki keindahannya masing-masing, setidaknya bagi para pemeluknya. Bagi pemeluk Budha, iman kepada ajaran sang Budha memiliki keindahan. Delapan jalan menuju kebahagiaan mengekspresikan keindahan agama Budha. Demikian juga dengan para pemeluk agama Islam, yang percaya bahwa keindahan Islam terletak pada apa yang tertulis di dalam Al’Quran. Mendaraskan Al’Quran dan melukiskannya serta mengamalkannya merupakan ekspresi keindahan Islam. Atau, bagi para pemeluk agama lokal yang tergolong dalam pemeluk Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, seperti Kejawen bagi orang Jawa atau Kaharingan bagi orang Dayak misalnya; keindahan agama lokal ini terekspresi lewat ritual-ritual adat dan mistis yang dilakukan turun-temurun, seperti layaknya harta berharga yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Lantas, apa keindahan iman Kristen?

Keindahan iman Kristen terletak pada harapan yang dibawa oleh kabar baik atau Injil bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Bagi iman Kristen, berjalan melalui delapan jalan menuju kebahagiaan atau mengamalkan apa yang tertulis dalam sebuah Kitab, atau menjaga dan melakukan ritual secara turun-temurun tidak membuat manusia mampu mengalahkan kematian. Setiap keindahan iman agama manapun pada akhirnya berhenti pada kematian. Tetapi Injil membawa pengharapan, bahwa ADA SESEORANG YANG MAMPU MENGALAHKAN KEMATIAN. Dia bangkit dari antara orang mati, dan tidak mati lagi!

Memang setiap iman memiliki janjinya masing-masing. Orang-orang dijanjikan bebas dari penderitaan dunia atau dijanjikan surga penuh dengan bidadari. Setiap iman memiliki versi surganya masing-masing. Keindahan iman tampak dari indahnya janji-janji tersebut. Semakin meyakinkan janjinya maka semakin indah tampaknya. Para pemeluknya berharap untuk mendapatkan apa yang telah dijanjikan itu.

Lantas apa yang iman Kristen janjikan? Kemenangan atas kematian. Iman Kristen menjanjikan kemenangan atas kematian.

Bukan kemudian menjadi Kristen berarti tidak mengalami kematian, tetapi menjadi Kristen berarti mengikut Yesus yang sudah mengalahkan kematian. Ini bukan tentang kita yang mengalahkan kematian kita sendiri, tetapi tentang Yesus yang sudah mengalahkan kematian.

Begini, setiap iman memiliki junjungannya masing-masing. Bisa dikatakan orang saktinya. Budha memiliki Sidharta Gautama. Islam memiliki Muhammad. Agama lokal punya tokohnya masing-masing. Nah, Kristen memiliki Yesus Kristus. Para pemeluk agama mengikuti pimpinan junjungannya masing-masing.

Dari semua pentolan iman di atas, hanya Yesus yang mengalahkan kematian. Yang lain berakhir di kematian mereka sendiri, yang memang adalah sesuatu yang wajar karena mereka semua manusia biasa.

Ini yang kemudian jadi pertanyaan, emang Yesus bukan manusia biasa?

Jawaban iman Kristen ialah ya jelas Yesus itu bukan manusia biasa. Tidak ada manusia biasa yang mengalahkan kematiannya sendiri. Itu mengapa iman Kristen menyebut Yesus sebagai Tuhan Yesus, bukan nabi Yesus atau Guru Agung Yesus. Nabi memang baik dan mulia, tetapi nabi itu manusia biasa. Guru Agung itu memang bijak, tetapi ia pun manusia biasa. Semua manusia biasa berhenti pada kematian mereka masing-masing.

Perhatikan apa yang iman Kristen katakan: “jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu”.[1] Ini perkataan rasul Paulus kepada para pemeluk iman Kristen di kota Korintus pada waktu itu, sekitar 2000 tahun kurang yang lalu. Itu perkataan serius, yang berarti jika Yesus itu tidak bangkit berarti iman Kristen itu sia-sia saja. Dengan kata lain, seluruh nasib iman Kristen dan pengamalannya terletak pada benar tidaknya ada kebangkitan Yesus dari kematian.

Nah, jika ada orang yang mau meruntuhkan iman Kristen maka mudah sekali caranya. Buktikan saja bahwa Yesus tidak bangkit dari kematian maka iman itu menjadi sia-sia saja, tepat seperti yang dikatakan rasul Paulus di atas.

Sayangnya, selama 2000 tahun kurang ini, belum ada satupun orang yang berhasil membuktikan bahwa Yesus tidak bangkit dari kematian. Sebaliknya, para rasul itu telah melihat Yesus hidup setelah Ia mati disalib. Mereka bahkan melihatnya naik ke surga seperti adegan iron man yang naik menjulang ke langit.

Saking senangnya dengan kabar baik itu, orang-orang ini pergi dan menyampaikan kepada semua orang bahwa ada harapan bagi umat manusia. Yesus telah mengalahkan kematian. Bahkan mereka rela untuk dibunuh karena berita itu, menyerahkan nyawa mereka karena memberitakan kabar baik itu.

Perhatian apa yang rasul Paulus gambarkan: Jika tidak demikian …. mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar.  Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”.[2]

Begini, tidak ada orang yang mau mengambil resiko jika hal itu tidak menguntungkan baginya. Semakin besar resikonya seharusnya semakin besar juga keuntungan yang dijanjikan. Paulus ini mengambil resiko yang sangat besar ketika ia memberitakan kabar kebangkitan Yesus dari kematian. Lihat apa yang terjadi padanya:

Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.[3]

Bahkan, akhir hidup rasul ini ialah dia dihukum pancung oleh pemerintah Roma karena dituduh menyebabkan kekacauan dengan dasar agama.

Orang ini tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, setidaknya bukan keuntungan materi atau posisi atau kenikmatan hidup atau kenyamanan atau apapun. Ia melakukan pemberitaan Injil, yaitu bahwa Yesus telah bangkit dari kematian karena memang itulah yang terjadi. Itulah yang sesungguhnya terjadi! Dan hal itu memberikan harapan bagi kemanusiaan bahwa ada seseorang yang telah berhasil mengalahkan kematian.

Contoh hidup rasul Paulus dan para rasul yang lain menjadi gambaran iman Kristen. Iman Kristen tidak dibangun dengan penaklukan tentara. Iman Kristen tidak dibangun dengan semedi yang khusuk selama berbulan-bulan. Iman Kristen juga tidak dibangun karena warisan turun-temurun. Iman Kristen dibangun karena sebuah kabar bahagia dengan pengorbanan nyawa para pemberitanya, bukan karena mati bertempur, tetapi karena dihukum mati oleh pemerintah Romawi.

Iman Kristen dibangun karena sebuah kabar bahagia. Manusia perlu mendengar bahwa di tengah-tengah tekanan maut setiap hari dan ketakutannya karena bayang-bayang kematian, ada Yesus yang sudah berhasil mengalahkan kematian. Hanya Dia satu-satunya pemimpin agama yang pernah mengalahkan kematiannya sendiri. Ia memberi harapan kepada semua manusia.

Iman Kristen dibangun di atas sebuah FAKTA, bahwa Yesus telah mengalahkan kematian.

Mari datang kepada-Nya. Ia hidup. Berikan dirimu untuk dipimpin oleh-Nya untuk keluar dari bayang-bayang maut.


[1] 1 Korintus 15:17 TB

[2] Lihat 1 Korintus 15: 29-32 TB

[3] 2 Korintus 11: 23 – 28  TB