Yang paling membedakan junjungan iman Kristen dengan junjungan iman yang lain ialah Yesus memiliki perkataan-perkataan yang terlalu besar. Bukan sangat besar, tetapi terlalu besar. Kata ‘terlalu’ di frase ‘terlalu besar’ menjelaskan sifat besar yang berlebihan. Terlalu besar berarti besarnya berlebihan. Dengan kata lain, saat dikatakan Yesus memiliki perkataan-perkataan yang terlalu besar berarti kata-kata yang Beliau keluarkan memang besar tetapi berlebihan.

Perkataan Yesus besar, karena itulah Beliau menjadi junjungan bagi banyak sekali orang. Ada sejumlah besar perkataan Yesus yang bijak dan mengena di hati. Sebagai contoh, perkataan Yesus tentang kasih jauh mencerminkan kedalaman yang jauh melebihi pengertian manusia pada umumnya: “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”.[1] Orang kebanyakan mengerti jika manusia seharusnya mengasihi sesamanya, tetapi tidak banyak yang membawa kasih itu kepada musuh mereka bahkan lebih lagi mendoakan orang-orang yang melakukan kekerasan kepada mereka. Ini kasih yang sangat dalam.

Atau, perkataan tentang kebaikan yang tiada duanya: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.”[2] Perkataan ini dibuktikan Beliau sendiri saat hendak ditangkap oleh prajurit Romawi. Ia tidak memberikan perlawanan sama sekali, meskipun itu bisa saja dilakukan. Orang pada umumnya akan melawan siapa saja yang berbuat jahat kepada mereka, tetapi Yesus mengajarkan untuk tidak melawan ketika mengalami kekerasan, tetapi justru rela berkorban untuk “memberi pipi kiri” ketika ditampar pipi kanan: membalas kejahatan dengan kebaikan, bahkan dengan pengorbanan.

Mahatma Gandhi terinspirasi dengan ajaran Yesus ini. Kejahatan yang dibalas dengan kebaikan. Ia memimpin sebuah gerakan tanpa kekerasan untuk melawan kekerasan yang terjadi di bangsanya oleh Kolonial Inggris pada waktu itu. Martin Luther King Jr. juga memimpin kegerakan tanpa kekerasan untuk melawan segregasi warna kulit di Amerika karena ajaran Tuhan Yesus ini. Baik Gandhi maupun King berhasil membawa dampak besar bagi bangsa mereka masing-masing. Mereka membalas kejahatan dan kekerasan dengan gerakan tanpa kekerasan. Mereka mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Yesus memiliki perkataan-perkataan yang besar. Tokoh-tokoh dunia meneladani-Nya dan mereka berhasil. Perkataan Yesus terbukti benar.

Meskipun demikian, ada perkataan-perkataan Yesus yang jika dirasa sebagai manusia perkataan-perkataan itu agaknya berlebihan, bahkan beberapa di antaranya kok malah sangat berlebihan.

Sebagai contoh, Beliau mengatakan “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”[3] Ada tiga bagian di sana. Akulah Jalan. Akulah Kebenaran. Akulah Hidup. Dalam tiga bagian ini Ia menyatakan tentang diri-Nya: Akulah jalan menuju kepada Allah Pencipta dan tidak ada jalan lain selain Aku.[4] Akulah Kebenaran. Jika kamu melihat Aku maka kamu sebenarnya sudah melihat Allah Pencipta.[5] Akulah Hidup. Aku yang mengadakan hidup manusia.[6] 

Mungkin ada sih yang mengatakan Aku tahu jalan menuju Allah Pencipta, atau Aku sudah menemukan jalan menuju Pencipta. Banyak orang mengatakan diri mereka sebagai utusan Allah. Mereka bercerita tentang pengalaman mereka bertemu dengan Allah. Mereka menyampaikan pesan-pesan spiritual atas nama Allah. Mereka menunjukan jalan menuju Allah. Banyak yang demikian. Itu bukan hal yang berlebihan. Itu hal yang wajar bagi orang-orang khusus yang kita namakan nabi atau rasul atau utusan Allah atau yang semacam itu.

Tetapi untuk mengatakan Akulah Jalan menuju Pencipta sepertinya kok rasanya agak berlebihan ya. Bukankah manusia hanya bisa menunjukkan jalan? Ini Beliau malah mengatakan aku itu jalannya. Tapi tentu saja kita sudah lihat di depan kemungkinan Yesus untuk berbohong itu sangatlah kecil. Atau kemungkinan jika Beliau ini adalah orang gila juga sangat-sangat kecil.

Jadinya, apa Yesus itu memang seperti yang Ia katakan ya? Apa Yesus itu jalan menuju Allah Pencipta?

Dan jujur saja, tidak ada manusia normal yang mengatakan Akulah Kebenaran. Begini ya, banyak orang yang percaya jika mereka sudah menemukan kebenaran. Ada yang mendapatkan kebenaran ketika bersemedi. Ada pula yang mengalami teofani atau pengalaman bertemu Allah secara langsung. Ada juga kaum Sufi yang sepertinya punya hubungan yang khusus dengan Allah.

Paling tidak, semua orang tersebut meyakini bahwa mereka dekat dengan kebenaran, bahkan sangat dekat sehingga kita yang awam ini bisa bertanya kepada mereka tentang kebenaran. Orang-orang khusus ini dipercaya menjadi sumber jawaban terkait kebenaran tentang Allah. Entah kemudian jawabannya benar-benar dapat dipercaya atau tidak, itu semua dikembalikan kepada kita yang bertanya. Apakah kita benar-benar percaya kepada kata mereka atau tidak dan apakah pengalaman mereka itu benar atau hanya sekedar omong belaka. Tidak ada yang tahu pasti.

Tapi, Yesus mengatakan dia ADALAH kebenaran. Bukan sekedar tahu, atau dekat atau punya koneksi, tetapi Akulah kebenaran. Ini kok gimana ya rasanya. Cobalah mencari satu orang di sepanjang sejarah umat manusia yang mengatakan hal serupa. Atau untuk menyederhanakannya, cobalah tengok para pentolan iman lainnya itu, apakah ada yang pernah mengklaim dirinya sebagai kebenaran? Kalo sekedar tahu atau punya koneksi atau meyakini bahwa dirinya adalah utusan Allah untuk menyampaikan kebenaran ya memang ada. Ada nabi. Ada rasul. Ada orang bijak yang memang bertugas untuk kebenaran. Tetapi mengatakan Akulah kebenaran itu ya baru Beliau ini.

Dan lagi, mengatakan Akulah hidup. Ini sangat berlebihan bagi seorang manusia biasa. Manusia itu punya kehidupan. Dia menjalani kehidupan. Ada hidup yang tiap hari ia rasakan dan alami dan pelihara dan resapi dan maknai. Dan dari manusia yang banyak itu, ada orang-orang yang memang lebih paham tentang hidup dari orang kebanyakan. Para pentolan iman misalnya, mereka jauh lebih memahami topik tentang hidup dari pada orang kebanyakan. Itu wajar. Kita menyebut mereka orang-orang terpilih.

Tetapi Yesus? Ia mengatakan Akulah hidup. Bukan sekedar tahu tentang hidup atau lebih paham tentang kehidupan ini. Ia ADALAH hidup itu sendiri. Ini berlebihan sekaligus membingungkan. Mana ada orang waras yang mengatakan aku adalah hidup. Tetapi Yesus melakukannya. Dan kita tahu, Yesus bukan orang yang tidak waras dan bukan pembohong.

Apakah memang Yesus itu benar-benar seperti yang Ia katakan tentang diri-Nya? Kita perlu benar-benar memperhatikan perkataan-perkataan Yesus ini.

Itulah mengapa iman Kristen menaruh fokus kepada Yesus dan apa yang Beliau katakan serta apa yang dikatakan oleh para murid-Nya yang kemudian disebut para rasul itu. Ada banyak perkataan Yesus yang seperti ini, seperti Akulah Roti hidup,[7] Akulah kebangkitan dan hidup,[8] Aku akan kembali ke sorga untuk menyiapkan tempat bagimu,[9] permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada (perkataan yang Ia sampaikan dalam doanya kepada Allah Bapa),[10] dan klaim-klaim besar lainnya.

Sekarang, mari sejenak berpikir. Kalau manusia biasa yang waras tidak mungkin mengeluarkan perkataan-perkataan sebesar dan se-berlebihan itu, dan kita tahu Yesus itu waras dan bukan pembohong atau orang gila, maka sebenarnya Yesus itu apa?

Itu mengapa iman Kristen menyebut Yesus itu Tuhan. Hanya Tuhan yang dengan yakin mengatakan hal-hal yang menakjubkan seperti itu. Hanya Tuhan jalan menuju Tuhan. Hanya Tuhan yang menyebut diri-Nya kebenaran. Hanya Tuhan yang menyebut diri-Nya hidup itu sendiri.

Yesus itu junjungan iman Kristen, bukan karena Beliau manusia hebat, tetapi karena Yesus itu Tuhan. Iman Kristen tidak menjadikan manusia biasa sebagai junjungan. Yesus itu Tuhan, bukan sekedar manusia biasa. Ia junjungan iman Kristen kita. Ia junjungan kita.

Iman Kristen itu isinya ya tentang Yesus. Semua perkataan besar dari Yesus diyakinkan dengan kebangkitan-Nya dari kematian. Dan iman Kristen mendasarkan keimanannya pada kebenaran ini. Jadinya, jika ingin tahu lebih banyak tentang iman Kristen maka kenallah Yesus. Ya, kenallah Yesus, bukan sekedar tahu tentang-Nya.

Caranya?

Datang pada-Nya. Bicara dengan-Nya. Baca dan pikirkan dengan serius perkataan-perkataan-Nya dalam Alkitab. Dia menunggu kita.


[1] Matius 5:44 TB

[2] Matius 5:39 TB

[3] Yohanes 14:6a TB

[4] Lihat Yohanes 14:6b TB

[5] Lihat Yohanes 14:9b TB

[6] Lihat Yohanes 1:3-4

[7] Yohanes 6:35 TB

[8] Yohanes 11:25 TB

[9] Yohanes 14:2-3 TB

[10] Yohanes 17:5 TB