Sepertinya setiap kita punya pengalaman ini. Ada yang datang dan bertanya kenapa iman Kristen percaya Tuhan bisa jadi manusia. Orang bertanya apakah Yesus itu Tuhan? Atau mana perkataan Yesus yang menyebut diri-Nya Tuhan? Yesus kan hanya nabi kok bisa jadi Tuhan? Atau pertanyaan lain yang semacam itu.

Saat bertemu pertanyaan semacam itu lantas apa jawaban kita?

Mungkin banyak ya variasi jawabannya. Yang jelas, kita sendiri perlu benar-benar percaya pada apa yang Kitab Suci katakan. Dasar kepercayaan iman Kristen ada pada apa yang tertulis dalam Alkitab. Semua itu benar adanya. Kita percaya Alkitab adalah firman Allah yang tidak mungkin keliru. Yang tertulis dalam Kitab Suci kita bukan dongeng atau sekedar ide mulia yang rohani. Sebaliknya, orang-orang terpilih menulis pengalaman mereka bersama Allah saat Allah bersentuhan dengan kehidupan manusia biasa.

Nah sekarang, apa memang Alkitab menulis perkataan Yesus kalau benar Dia itu Tuhan? Banyak orang ingin tahu apakah Yesus pernah berkata dan mengaku diri-Nya adalah Allah. Bahkan, jika kita “hanya’ memberikan tulisan para rasul saja, beberapa orang masih saja ingin tahu perkataan Yesus sendiri. Maksudnya, yang mereka inginkan bukan sekedar apa yang para rasul-Nya katakan tentang diri Yesus, tetapi Yesus sendiri yang mengeluarkan perkataan itu.

Sehingga ketika kita gagal memberikan apa yang diinginkan maka orang-orang akan menganggap bahwa ternyata Yesus bukan Allah. Iman Kristen percaya pada karangan Paulus saja karena Yesus sendiri tidak pernah mengatakan diri-Nya Allah.

Sejatinya, apakah memang ada perkataan Yesus yang menjadi bukti iman Kristen bahwa Ia adalah Allah?

Begini, Apa yang para rasul sampaikan dalam Alkitab bukanlah karangan manusia. Itu semua adalah kehendak Allah. Jadinya, tulisan para rasul itu ya sama saja dengan perkataan Yesus sendiri. Kan rasul itu berarti orang yang diberi kepercayaan penuh dan diutus untuk melakukan tugas yang dipercayakan oleh yang mengutusnya. Dalam hal ini para rasul itu diutus oleh Yesus sendiri. Jadinya wajar dan benar adanya jika kita katakan bahwa perkataan para rasul dalam Alkitab itu bobotnya sama dengan perkataan Yesus sendiri.

Mungkin kemudian ada yang berkata, okelah kalau begitu. Kita percaya para rasul memegang otoritas yang demikian. Tetapi yang dibutuhkan di sini adalah perkataan Yesus sendiri.

Baiklah. Sabar. Tentu saja Yesus sendiri pernah mengatakan Dia adalah Allah. Bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi berkali-kali. Justru, perkataan para rasul dibangun di atas perkataan Yesus sendiri bahwa Ia adalah Allah. Mereka membangun iman Kristen di atas tindakan Yesus yang mereka lihat dan kemudian tuliskan dalam Injil.

Artinya, jika ada orang yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah mengatakan Dia itu Allah, ya tidak usah dipercaya saja. Orang-orang ini kan sukanya menyebarkan hoax. Hoax itu tidak perlu didengar. Orang yang menyebarkannya perlu dipandang sebagai pembohong dan tidak bertanggung jawab.

Baiklah. Jadi, mana perkataan Yesus yang mengatakan Dia adalah Allah?

Sebentar. Satu poin dulu sebelum ke situ. Kita pasti ke situ, tetapi kita butuh poin ini sebelum ke situ.

Ada sebuah cerita. Seorang anak remaja disuruh ibunya membeli kue bolu. Ibunya sedang sibuk di dapur mempersiapkan masakan kesukaan suami. Kue bolu juga adalah kesukaan suami. Ini adalah masa pandemi Covid. Oleh pemerintah orang-orang dianjurkan untuk tidak keluar rumah kecuali untuk urusan-urusan yang sangat penting dan mendesak.

Sekarang, pertanyaanya ialah apakah kue bolu ialah urusan yang sangat penting dan mendesak? Tentu saja tidak! Ibu ini meresikokan anaknya terkena virus mematikan hanya karena urusan kue bolu.

Apakah benar tanggapan tersebut? Bisa saja benar. Tetapi, bisa juga salah.

Untuk memastikan benar tidaknya tanggapan itu kita perlu paham konteks kejadian ceritanya. Ternyata, si ayah remaja ini baru saja menjalani isolasi di rumah sakit selama empat belas hari. Oleh para tenaga kesehatan, bapak ini ditolong sehingga akhirnya ia bisa kembali ke rumah setelah statusnya dinyatakan negatif. Dua minggu adalah waktu yang sangat lama bagi keluarga ini. Dengan harap-harap cemas mereka menanti dan mendoakan kesembuhan dari sang kepada rumah tangga. Hari itu, bapak terkasih itu kembali ke rumah karena sudah sembuh.

Itu konteks pertamanya. Dari pemahaman ini, kita tahu situasinya. Ternyata rumah dalam situasi penyambutan sang bapak. Wajar jika si ibu sibuk mempersiapkan masakan kesukaan suami dan remaja tadi berkontribusi membeli bolu kesukaan ayahnya.

Tetapi, mengapa harus keluar membeli bolu? Itu sama saja mengundang kembali virus masuk dalam rumah. Mungkin ada yang berpikir begitu.

Nah, konteks kedua melengkapi pemahaman cerita di atas. Ternyata, kue bolu itu tidak dibeli di swalayan, tetapi secara daring atau online. Sang ibu belum terbiasa membeli secara daring. Biasanya anak remajanya ini yang dimintai tolong setiap kali ingin belanja daring.

Saya kira cerita tersebut jadi bisa dipahami dengan baik. Dari sini kita tahu bahwa ternyata konteks sangat menentukan pemahaman kita terhadap cerita yang dibaca. Kurangnya pemahaman konteks dapat berakibat tanggapan yang salah terhadap cerita, persis seperti tanggapan awal terhadap cerita di atas. Sebaliknya, pemahaman konteks yang baik menjadikan kita dapat memiliki tanggapan yang benar.

Perkataan-perkataan Yesus ditulis dalam cerita-cerita Injil. Cerita-cerita itu memiliki konteksnya. Nah, beberapa orang sebenarnya telah mendengar berkali-kali perkataan Yesus yang menyatakan Ia adalah Allah. Tetapi karena tidak memahami konteksnya dengan benar maka perkataan-perkataan itu tidak dimengerti sebagaimana seharusnya. Tanggapannya pun jadi salah sehingga ada kesimpulan yang keliru yang mengatakan Yesus tidak pernah mengatakan Ia adalah Allah. Padahal, dalam cerita-cerita Injil, Yesus berkali-kali mengatakan bahwa Ia adalah Allah.

Ayat berikut dapat membantu kita membentuk pemahaman konteks yang kita butuhkan dari cerita Injil yang akan kita lihat.  

Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati.[1]

Ayat ini mewajibkan orang Israel untuk melontari seseorang yang menghujat nama Allah. Nah, kewajiban ini dipegang teguh oleh orang-orang Yahudi pada jaman Yesus. Maka, setiap kali Injil mencatat Yesus mengatakan sesuatu dan kemudian diakhiri dengan kalimat orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus, itu berarti perkataan Yesus itu dianggap atau dipahami sebagai sesuatu yang menghujat Allah.

Bagi kita sekarang, ketika membaca cerita yang mengatakan orang-orang ingin melempari Yesus dengan batu, bisa jadi kita berpikir mereka marah atau tersinggung dengan perkataan Yesus. Pikiran itu dapat dimengerti. Pada masa kini, orang yang ingin melempar batu kepada orang lain biasanya adalah orang yang marah atau tersinggung. Alasan pelemparan itu lebih kepada emosi yang meledak. Alasan yang memicu emosi tersebut dapat sangat bervariasi, tetapi biasanya adalah masalah pribadi. Orang yang melempar batu pun biasanya dianggap sebagai orang yang kurang dewasa, atau tidak dapat mengendalikan emosinya.

Sayangnya, tidak demikian dengan orang-orang Yahudi pada jaman Yesus. Mereka hidup menurut hukum Taurat. Bagi mereka, ketika seseorang emosi dan melempari sesamanya dengan batu maka orang yang emosi tersebut harus dibalas. Tidak peduli apakah emosi itu dipicu karena tersinggung atau masalah pribadi lainnya, ketika seseorang tidak dapat mengendalikan emosinya dan justru melempari sesamanya dengan batu, maka kerugian yang diderita oleh sesamanya itu haruslah dibalaskan kepada orang yang melempari. Mata ganti mata, gigi ganti gigi, bengkak ganti bengkak. Dengan kata lain, batu yang dilempari orang itu harus kembali dilempari kepadanya karena ia telah merugikan sesamanya.[2]

Yang ingin disampaikan di sini ialah orang-orang Yahudi yang ingin melempari Yesus dengan batu bukanlah seperti yang kita bayangkan. Mereka bukan orang yang tidak dapat mengendalikan diri sehingga setiap kali ingin melempari sesamanya dengan batu. Sebaliknya, mereka paham betul apa yang mereka lakukan. Agama mewajibkan mereka untuk melempari seseorang yang kedapatan menghujat nama Allah. Saat Yesus mengaku Ia adalah Allah, hal itu dihitung sebagai sesuatu yang menghujat Allah. Tentu saja, hukumannya ialah dilempari dengan batu saat itu juga.  


[1] Imamat 24:16 TB

[2] Lihat Imamat 24:19-20 TB