Kita akan melihat tiga cerita Injil yang di dalam cerita itu Yesus mengatakan Ia adalah Allah. Dua cerita diambil dari Injil Yohanes, satu cerita dari Injil Lukas.

Peristiwa pertama, direkam Yohanes dalam tulisan Injilnya. 

“… Aku dan Bapa adalah satu.” Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” … supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.[1]

Nah, perhatikan perkataan Yesus dan perhatikan juga tanggapan orang-orang yang mendengar. Yesus mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu”. Orang-orang yang mendengar menanggapi dengan mengambil batu untuk melempari Yesus.

Yesus memanggil Allah Israel dengan sebutan Bapa. Ini bukan hal yang menghujat. Para nabi seperti Yesaya dan Yeremia menuliskan panggilan Allah sebagai Bapa.[2] Bahkan, Maleakhi menulis Allah yang memang menginginkan Israel menghormati-Nya seperti seorang anak menghormati bapanya.[3]

Yang menjadi persoalannya ialah Yesus mengatakan Aku dan Bapa adalah satu. Ini adalah perkataan yang menghujat Allah. Mengapa? Karena manusia yang mengatakan ia dan Allah adalah satu menyamakan dirinya dengan Allah. Tidak ada orang yang dapat menyamai Allah. Allah terlalu besar dan agung dan megang dan tinggi untuk dapat disamakan. Terlalu jauh kualitas antara Allah dengan manusia. Nah, manusia yang menyamai Allah sama saja mengatakan ia adalah Allah sendiri.

Orang-orang yang mendengar perkataan Yesus langsung ingin melempari Dia dengan batu sampai mati. Menyamakan diri dengan Allah atau mengatakan dirinya Allah adalah penghujatan yang harus dihukum dengan hukuman mati. Dalam kutipan tulisan Yohanes di atas, kita dapat melihat kesimpulan yang diambil oleh orang-orang yang mendengar: “karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah”.

Peristiwa kedua, direkam Lukas dalam Injilnya.

Maka Imam Besar bangkit berdiri di tengah-tengah sidang dan bertanya kepada Yesus, katanya: “Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?” Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.” Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?” Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati.[4]

Perhatikan bahwa seluruh majelis sidang yang berjumlah tujuh puluh orang itu bersuara bulat untuk menghukum mati Yesus. Atas dasar apa? Atas dasar penghujatan. Bagian mana dari perkataan Yesus di atas yang menghujat Allah? Bukankah Yesus mengatakan Dia adalah Anak Manusia?

Nah, di sinilah pemahaman konteks menjadi sangat penting. Mungkin orang-orang akan mengatakan “kan benar, Yesus mengatakan dirinya Anak Manusia. Artinya Yesus mengaku diri-Nya manusia biasa, kok iman Kristen bilang Dia Tuhan?” Anak Manusia dalam pemahaman kita sekarang berarti anak dari manusia atau anak dari manusia biasa. Kita semua anak manusia. Wajar memang jika kemudian perkataan Yesus diartikan sebagai suatu bentuk pengakuan bahwa Ia adalah manusia biasa saja, bukan Tuhan.

Sayangnya, dalam sidang di atas, para majelis alim ulama yang sangat mengerti Kitab Suci itu tidak begitu pemahamannya. Dalam sidang itu, mereka paham betul apa artinya Anak Manusia dalam konteks pemikiran Yahudi. Itu mengapa saat Yesus mengatakan Dia adalah Anak Manusia, mereka semua langsung sepakat dengan suara bulat menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus.

Jadi, sebenarnya siapa sih Anak Manusia itu sehingga harus banget dengan suara bulat tujuh puluh orang tua-tua Israel itu menghukum mati seorang rabi?

Mari kita lihat ayat yang memang menjadi acuan tujuh puluh orang itu sekaligus acuan semua orang yang paham konteks percakapan sidang tersebut.

Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.[5]

Setidaknya ada dua hal besar yang terkait dengan Anak Manusia, sebutan yang dipakai Yesus untuk dirinya sendiri di hadapan tujuh puluh orang majelis hakim di atas. Pertama, dalam penglihatan Daniel, ada dua sosok pribadi, yang seorang seperti anak manusia, artinya ia terlihat seperti layaknya seorang manusia pada umumnya, dan yang lain ialah Yang Lanjut Usianya, yaitu seseorang yang lebih tinggi kedudukannya, lebih besar pengaruhnya dari anak manusia itu.

Nah, Daniel melihat bahwa anak manusia dibawa ke hadapan Yang Lanjut Usianya. Anak kalimat “dibawa ke hadapan Yang Lanjut Usianya” menunjukkan posisi Yang Lanjut Usianya lebih tinggi dan pengaruh yang lebih besar dari anak manusia itu. Dari Yang Lanjut Usianya itu, Anak manusia kemudian menerima kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja. Ini tampak seperti pelantikan seorang raja oleh seseorang yang sangat berkuasa.

Ini ditunjukkan dengan setting tempat kejadian “tampak datang dengan awan-awan dari langit”. Juga terlihat dengan tanggapan banyak orang “dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa” yang datang untuk mengabdi kepada anak manusia itu. Juga diperlihatkan dengan penjelasan tentang sifat dari otoritas yang baru saja diberikan kepada sang anak manusia: “Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah”.

Jelaslah bahwa anak manusia yang dilihat Daniel ini bukan sekedar seorang manusia biasa. Tidak ada manusia biasa yang datang dengan awan-awan dari langit. Tidak juga seorang manusia biasa yang menerima pengabdian dari segala bangsa, suku dan bahasa, apalagi dengan kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap serta kerajaan yang tidak akan musnah.

Anak manusia ini jelas lebih dari sekedar manusia biasa.

Yang Lanjut Usianya dapat diartikan sebagai Allah sendiri sementara anak manusia ini ialah Anak Allah.

Nah, begitulah kira-kira pemahaman para tujuh puluh tua-tua Israel di atas. Ketika mereka mendengar Yesus mengatakan Dia adalah Anak Manusia, yang mereka pikirkan ialah Yesus menyebut diri-Nya memiliki kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap dan kerajaan yang tidak akan musnah. Terang saja itu sama dengan mengatakan aku adalah Anak Allah, yang dilantik Allah untuk menerima pengabdian dari seluruh umat manusia.

Untuk seorang rabi Yahudi yang adalah manusia biasa, pengakuan seperti itu dikategorikan sebagai sebuah penghujatan terhadap Allah. Itulah sebabnya dewan majelis tersebut memberikan hukuman mati kepada Yesus. Keputusan hukuman mati ini menjadi dasar Yesus disalib. Dengan kata lain, Yesus hukum mati, disalib, karena Ia mengaku dirinya sebagai Anak Allah yang memiliki kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap dan kerajaan yang tidak akan musnah, yang kepada-Nya seluruh umat manusia akan mengabdi.


[1] Yohanes 10:30-33, 39 TB

[2] Lihat Yesaya 63:16 TB, Yesaya 64:8 TB, Yeremia 3:4 TB

[3] Maleakhi 1:6 TB

[4] Lukas 14:60-64 TB

[5] Daniel 7:13-14 TB